Assalamu'alaikum , kepada semua warga sekolah dapat membaca beberapa peraturan jika ingin menggunakan peralatan elektronik khususnya mesin pencetak dan komputer di sekolah.




Penggunaan Printer :

  • Menjaga kebersihan Printer.
  • Sebelum menggunakan printer lakukan "Clean Head" jika printer jarang digunakan.
  • Matikan printer jika sedang tidak digunakan.
  • Cabut colokan dari sumber listrik jika tidak digunakan dalam jangka waktu yang lama.
  • Jangan mencetak secara berlebihan, karena printer mimiliki batas waktu bekerja jika kelelahan maka akan memaksa "printer head" tetap bekerja sehingga mengakibatkan kerusakan.
  • Jangan matikan printer jika printer mengalami error (Ada sebagian lampu berkedip orange/merah) maka baca kode errornya di buku panduan dan lakukan petunjuk perbaikannya, jika kurang mengetahui dapat menghubungi yang ahli dibidangnya.
  • Perhatikan tinta jangan sampai kehabisan tinta, salah isi warna dan salah tinta (Tidak sesuai dengan yang direkomendasikan). 
  • Lakukan perawatan kinerja Kartrid (Jika menggunakan printer kartrid).
  • Perlakukan printer dengan penuh kasih dan sayang.





Penggunaan Komputer.

  • Menjaga kebersihan komputer dan sekitarnya.
  • Matikan komputer dengan cara yang benar.
  • Pastikan di shutdown, jangan menggunakan tombol power secara langsung.
  • Jangan membawa makanan khususnya minuman pada saat menggunakan komputer di khawatirkan dapat merusak komputer.
  • Jangan menginstall aplikasi apapun sebelum dipastikan aplikasi aman, jika hendak menginstall hendak bertanya kepada seorang yang ahli agar dipastikan bahwa aplikasinya aman untuk di install.
  • Jangan mencolok Perangkat Penyimpanan (Flasdisk, Hardisk , SDD , SDcard dan lainnya) untuk menghindari komputer terinfeksi virus sehingga mengakibatkan kerusakan software dan hardware komputer.
  • Jika ingin memindahkan file dari komputer ke perangkat lain atau sebaliknya dapat menggunakan media online seperti email , WA , Telegram dan lainnya. juga bisa menggunakan smartphone melalui koneksi Kabel USB.
  • Harap berhati hati jika berselancar atau browsing menggunakan internet menghindari adanya serangan Malware, diharapkan semua situs yang di akses memiliki sertifikat keamaan seperti HTTPS bukan HTTP.
  • Matikan komputer jika tidak digunakan.

 



 

Barangkali Senin adalah hari yang begitu padat hingga kita tak boleh terlambat. Ada berbagai agenda yang harus diselesaikan agar hati bisa tenang dan jiwa tidak bimbang.


Kata seorang teman hari Senin itu seperti beban yang tak bisa dihindarkan, harus bangun pagi dan langsung mandi tidak boleh berleha-leha lagi, kadang terburu-buru hingga lupa bawa dompet sarapan pun tak sempat sebab waktu sudah mepet. Saat sedang mengajar emosi sering tidak terkontrol, tadinya ingin tegas malah berubah menjadi keras, ingin menjadi orang yang sabar namun nyatanya barbar, ingin pulang lebih awal biar rehat sejenak nyatanya pekerjaan masih banyak. Sungguh, Senin itu tak menyenangkan, bukan?

 

Pembaca yang budiman, Senin itu memang sibuk, banyak pekerjaan yang menumpuk, tapi ingatlah apapun yang terjadi kita harus tetap berusaha menjadi orang yang positif. Walaupun banyak masalah senyum harus tetap diwajah, walaupun anak-anak tidak dengar-dengaran jangan marah tetaplah ramah. Jika tidak mood ambillah wuduh, walau sudah lelah, lengah tetaplah lembut.

 

Saudaraku, percayalah dengan sikap positif yang kita tunjukkan maka terpancarlah kebaikan-kabaikan untuk orang-orang disekitar. Jadikanlah dirimu oase yang selalu menyejukkan ditengah padatnya kesibukan, walau siang itu panas dan gersang kehadiranmu membuat orang senang.

Sungguh, Senin itu padat dan kamu sangat bermanfaat!

 

 

 

Penulis: Dimas

 

  

 


Fajar mulai menyinsing dibalut cuaca yang begitu hening dan dingin, perlahan aku meraba ponsel yang dari tadi berdering ternyata ada pesan dari Ibu Ervi yang mengingatkan hari ini rihla dan harus kumpul tepat waktu di BTN Manusela. Tanpa berpikir panjang aku segera bangun dari ranjang dan bersiap-siap datang. Setelah sampai di Masjid Al-Ikhwan ternyata cuaca hari ini cukup cerah dan indah eh ada Ibu Linda juga, nampaknya ia sedang duduk menunggu yang lain. Setelah beberapa menit kemudian semua sudah berdatangan, oto juga sudah siap melakukan perjalanan, diiringi doa naik kendaraan semoga tak ada halangan diperjalanan.

 

Ibu-ibu telah berangkat duluan sementara aku dan Pak Sam masih berbincang sembari menunggu bapak-bapak yang tak kunjung datang inilah kebiasaan para bujang, dalam hati berucap “ah dasar, kamu juga masih bujang hehe…”

 

Setelah menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan, akhirnya aku dan Pak Sam sampai juga di Halassy, lingkungannya bersih, pasir pantainya putih, cukup menarik untuk berekreasi. Disepanjang pantai ada beberapa gazebo, dibalik terumbuh karang ada banyak Ikan Tato kalau menyelam harus menggunakan kacamata molo, sungguh pemandangan bawah laut membuat mata melotot. Selang beberapa menit rombongan pun tiba dengan berbagai macam berita, ternyata dalam perjalanan ada banyak kisah mulai dari rantai motor Pak Ahmad yang terputus jadi harus menunggu bantuan dari orang yang benar-benar tulus, disisi lain motor Pak Subhan juga mogok tak bisa belok membuatnya terpojok. Mungkin ada cerita juga dari ibu-ibu, tapi mereka tak memberitahu, ya sudahlah biarkan ibu-ibu beristrahat dulu!

 


Waktu menunjukkan pukul 11:30 dan kini aku duduk sendiri menyendiri menikmati pemandangan Pantai Halassy. Dari kejauhan terlihat Ibu Linda dan Ibu Sofi bergantian mengenakan topi bundar yang terbuat dari untaian kain yang tipis sekilas terlihat seperti para turis dari Inggris. Di tengah jembatan ada Pak Subhan yang berjalan sendiri dan mengambil foto secara mandiri. Disisi lain ada Ibu Ervi dan Ibu Nurul yang mengenakan kacamata eksotik mondar-mandir mencari ikon yang menarik agar foto terlihat apik dan cantik. Sementara Ibu Iin, Ibu Fidah, Ibu Nia, Ibu Nidar dan Ibu Fit dengan senang hati menemani buah hati yang sedang asik menceburkan diri di laut yang jernih. Lain hal dengan Ibu Kep yang sesekali memotret si buah hati sembari terseyum sendiri pertanda kasih sayang yang tinggi. Aku mencoba memalingkan pandangan dan melihat Ibu Ira yang lagi sibuk meretakkan es batu kedalam box ikan juga menyiapkan makanan, kata para guru kalau konsumsi ditangani Ibu Ira maka semuanya aman, kawan! Kini matahari semakin menyengat aku pun mulai berpindah tempat mungkin gazebo adalah pilihan yang tepat. Di gazebo aku dan Pak Yusran mencicipi buah salak saat memandang ke depan mataku terbelalak melihat Mam Mia, Mam Sum dan Ibu Sara yang berenang di air laut tak peduli panas yang menyengat apalagi kulit kering kusam pekat, sungguh mereka benar-benar menghilangkan penat.

 

Seusai shalat Ashar nampaknya Ibu Yana, Ibu Yani dan ibu-ibu guru yang lain sudah mulai beres-beres untuk pulang, begitupun juga pengantin baru Pak Heru dan Ibu Arafa yang mau pamit duluan, mereka nampak romantis diatas motor berduan, jangan kena mental dulu pembaca yang budiman hehehe. Setelah itu disusul oleh pengantin lama ayah bunda dari ananda Salwa yang nampak selalu samawa. Sementara disisi lain Pak Sam, Pak Syafaat dan beberapa guru telah mengayun sampan menuju lautan, memancing ikan layaknya nelayan sungguhan eh padahal perahu mereka tenggelam, maklum belum banyak berpengalaman.

 

I N T E R V A L

 

Gazebo O3

 


Malam telah tiba disambut kelelawar dengan suka cita, dibalik pepohonon ada asap yang datang tiba-tiba menyelemuti atap gazebo 03, namun suasana ini sama sekali tidak dihiraukan. Pak Kadir masih sibuk membakar Ikan Tato, lalu datanglah Mam Mia yang tumben ingin mendengarkan cerita horror. Malam sudah makin pekat diiringi rintikan hujan dan asap tipis dibalik pepohonan yang lebat, nampaknya yang lain sudah tidur namun di Gazebo 03 masih terdengar suara-suara yang tidak keras namun cukup jelas. Waktu telah menunjukkan pukul 12:03 rupanya malam sudah sangat hening tiba-tiba datanglah sosok pria yang mengenakan kameja kotak-kotak, lewat didepan Gazebo 03, ia berjalan tegak sekilas terlihat seperti Pak Kadir. Nampaknya ada yang belum tidur lalu menegur:

Ibu Salma dkk.            : Pak Kadir, apa betul ini Pak Kadir? (disapa dengan nada yang pelan agak gemetar)

Pria X              : Bukan, aku bukan Pak Kadir. (dijawab dengan tegas tanpa membalikkan wajah)

 

Pria tersebut terus berjalan lurus dan tiba-tiba menghilang, Ibu Salma dkk. hanya bunkam, terdiam lalu mencoba untuk tidur sejenak seolah melupakan. Selang beberapa menit berlalu pria tersebut dantang kembali dan ingin memasuki Gazebo 03 keadaanya tidak terlihat hanya saja keberadaannya di rasakan dengan bunyi-bunyi papan seperti ada langkah kaki dan hal ini terdeteksi oleh Ibu Ira. Serentak semua berteriak!

 

Masya Allah, beberapa guru pria langsung datang menghampiri dan menanyakkan apa yang terjadi? Dari jauh aku melihat Pak Eris sedang mengintrogasi dan memberi nasehat agar Ibu Salma dkk. harus berhati-hati sebab disini memang banyak makhluk gaib yang menampakkan diri bukan hanya sekali, tapi sudah banyak kali! kemudian disahut oleh Ibu Ira yang menceritakan bahwasanya tadi pagi Asky sudah berucap kalau ia melihat hantu dengan rambut terurai duduk dibelakang toilet mengenakan baju orens, mendengar hal ini kaki Pak Syafaat gemetar sementara Pak Subhan dan Pak Ahmad saling memandang lalu berteriak ketakutan dan ingin bergeser menuju para akhwat, hmm… ada ada saja!

 

Waktu telah menunjukkan pukul tiga malam, aku diajak Pak Eris untuk shalat malam diatas jembatan. Sambil berjalan menuju tempat shalat aku melihat Pak Rizal yang sedang khusu bermunajat, dalam hati hanya berucap Masya Allah sholeh sekali Pak Rizal ni. Sebelum memulai shalat Pak Eris berbisik “kita shalat sebelas rakaat” aku hanya diam tanpa menyahut, dan benar saja hanya beberapa rakaat kepalaku sudah menunduk, mata sudah mengantuk setelah salam terakhir aku jatuh tersungkur tidur di belakang Pak Eris, sementara Mr. Eris terus melanjutkan shalat.

 

Pagi telah tiba, butir-butir embun yang bening jatuh membasahi bumi diiringi suara Burung Nuri didahan-dahan Pohon Beringin seakan bernyanyi menyambut mentari. Di Gazebo 03 Ibu Linda sedang menyeduh energen dan kopi sementara Pak Kadir lagi bersantai diatas hemok yang sudah diikat rapih sembari membaca buku “Serial Cinta” ditemani secangkir kopi buatan Ibu Linda, ah dasar… Pak Kadir benar-benar menikmati! Setelah beberapa menit kemudian oto telah datang pertanda kami harus pulang, menerobos hujan yang selalu menerjang.

 

Mungkin ini hanya cerita biasa bernuansa horror dan romansa, tapi percayalah ukhuwa kami luarbiasa hingga tak bisa diungkapkan dengan kata hanya bisa dengan rasa.

 

 

 

Penulis: Dimas

 

 

 

 

 

 

 



Hidup ini terlalu singkat tak perlu dibuat-buat agar terlihat bermartabat, sebab kemulian seseorang bukan dilihat dari banyaknya penghormatan, tingginya jabatan, ataupun fisik yang rupawan, tapi dilihat dari seberapa kedekatan diri dengan Tuhan. Mari kita belajar menjadi guru yang sederhana namun kebaikannya ada dimana-mana, belajar menjadi guru yang bukan hanya bagus penampilan, tapi juga bagus iman. Belajar menjadi guru yang tidak hanya pandai berbicara tetapi juga pandai bermuamalah.  


Saudaraku terkasih, menjadi guru memang sulit sebab pahalanya tidak sedikit, menjadi guru memang tidak mudah sebab balasannya surga. Mari kita perbaiki niat bukan untuk dilihat, tapi untuk akhirat agar kita selamat!


Semoga bermanfaat…



Penulis: Dimas



Kadang kita berpikir sekolah hanya tempat belajar dan juga mengajar, sungguh ini definisi yang sangat pelit yang membuat pikiran jadi sempit hidup pun berbelit-belit. Ada juga yang berpendapat bahwasanya sekolah adalah tempat bekerja dan mencari nafkah, ini tidak salah namun menambah masalah sebab bagi mereka yang beriman definisi sekolah bukan hanya sebatas itu kawan. Sekolah ialah rumah bagi orang-orang cerdas yang bekerja tuntas dengan hati yang ikhlas, walau gaji sedikit yang penting ada ridha dari langit. 


Inilah Sekolahku Cendekia, tempat mulia bagi mereka perindu surga, mulia bukan karena bergelimang harta maupun tahta, tapi karena ibadah dan amal jariyah.


Saudaraku bagaimana sekolah menurutmu? Jangan ragu-ragu definisikan saja semaumu!



Penulis: Dimas



           

Adalah mereka yang memiliki niat yang teguh hingga tak ragu-ragu untuk melangkah maju. Inilah untaian kisah tentang mereka yang giat bekerja tanpa pamrih, bakti mereka itu murni karena mengharapkan balasan Illahi. Ketika uang sudah menipis, bensin sudah habis mereka tetap tersenyum manis. Saat menjelang pagi mereka telah siap-siap pergi tak peduli seberapa buruk cuaca hari ini. Pelajaran telah usai mereka kembali ke sekolah lagi sebab ada pekerjaan akreditasi yang harus dipenuhi. Aduhai, lihatlah mereka yang sedang mengetik, mengumpulkan RPP Tematik, yang lain sedang mengatur dokumen berjarak-jarak agar terlihat rapih dan apik, sungguh suasana begitu sibuk. Senja telah datang, waktunya untuk pulang berjalan kaki menaiki tanjakkan yang cukup tinggi sambil melantungkan dzikir dalam hati, menikmati indahnya berjalan berkoloni. Ketika banyak masalah yang datang mereka tetap tenang, tidak mengeluh, mengalah, apalagi menyerah! Inilah mereka pejuang sejatih akreditasi.


           Masya Allah, hujan September turun lagi, namun kali ini cukup lebat tapi mereka sama sekali tidak telat. Waktu telah menunjukkan pukul 07.30 pertanda akreditasi harus dimulai ada wajah-wajah yang tegang namun ada pula yang tenang. Ya Rabb kindung cinta-Mu telah dilantungkan ada harapan yang tak bisa diungkapkan, sungguh hati kami sedang bermunajat, merintih memohon pertolongan dari langit. Ya Rahman, hujan dan padamnya lampu hari ini adalah pertanda bahwa Engkau sedang menguji mereka yang beriman, Alhamdulillah kami merasa nyaman walaupun banyak halangan dan rintangan. Waktu terus berlalu tak terasa sudah masuk poin ke-41 tetang PKL siswa dan magang guru sekaligus mengakhiri akreditasi hari ini, ucap Ibu Ivatul. Serentak semua beban runtuh, tepukan gemuru dari para guru diiringi ucapan takbir tanda syukur, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.


            Inilah sekelumit kisah tentang mereka yang berjuang menggapai asa walaupun banyak cucuran air mata, mereka telah berhasil melukis cerita demi sekolah tercinta. I love you Cendekia.


Penulis: Dimas